HBA Masih Melemah Meski Sedikit Menguat

HBA Masih Melemah Meski Sedikit Menguat

Editorial by : Hendra Sinadia, Direktur Eksekutif  APBI-ICMA (12/11/2019)

Pemerintah merilis harga batubara acuan (HBA) bulanan periode Nopember 2019 dimana posisi HBA sedikit menguat $66,27 dari sebelumnya di bulan Oktober 2019 $64,80. Volatilitas harga masih dipengaruhi oleh kondisi pasar global yang masih “oversupply” akibat lonjakan produksi dari beberapa negara terutama Indonesia sebagai eksportir batubara terbesar di dunia. Secara umum, permintaan global relative bagus dalam artian, ada peningkatan meski tidak signifikan.

Data dari IHS Markit menunjukkan global sea borne market di 2019 sekitar 1.450 juta ton atau mengalami peningkatan 4 % dibanding market tahun 2018 sebesar 1.400 juta ton. Sedangkan International Energy Agency (IEA) dalam laporannya berjudul “Coal Forecast 2018 – 2023” menunjukkan bahwa permintaan global batubara di kisaran 1.373 juta ton pada tahun 2017, lebih besar 3,5% atau (46 juta ton) dibanding tahun 2016. Di sisi lain, Indonesia sebagai eksportir batubara terbesar mencatat kenaikan produksi yang cukup tinggi di 2018 yaitu 557 juta metrik ton yang didorong oleh kenaikan harga komoditas sejak kuartal-IV tahun 2016 yang berlanjut hingga Agustus 2018. Meski sejak September 2018 harga menunjukkan trend menurun terutama di kuartal-IV tahun 2019 namun lonjakan produksi dari Indonesia tidak dapat dihindari.

Kondisi lonjakan produksi di 2019 juga seperti yang diprediksi oleh banyak pihak bahwa produksi di 2019 akan melebihi target pemerintah. Awalnya Kementerian ESDM memproyeksikan target produksi di kisaran 489 juta M/T atau naik tipis dari target 2018 yaitu 485 juta ton. Namun, dengan kondisi yang kurang lebih sama dengan di pertengahan 2018 lalu, akibat tekanan terhadap neraca transaksi berjalan atau “current account deficit (CAD}”, pemerintah tidak punya pilihan selain menggenjot produksi batubara. Di tahun 2018 pemerintah “merelaksasi” target produksi dengan merevisi dari 485 juta M/T menjadi 510 juta M/T. Di tahun 2019, sejak September 2019, pemerintah menaikkan target produksi menjadi 530 juta M/T dari target awal 489 juta M/T. Kementerian ESDM memberikan persetujuan revisi RKAB dari 34 perusahaan.

Dengan kondisi seperti ini sulit mengharapkan adanya penguatan harga komoditas di tengah pasar global yang “oversupply”. Lonjakan produksi dari Indonesia, terutama di kalori menengah dan rendah, justru menekan harga/indeks untuk kalori menengah dan rendah yang pasar ekspornya majoritas dari Indonesia sendiri. Pemerintah tentu dalam kondisi yang dilematis. Di satu sisi pemerintah sejak awal 2019 berniat untuk membatasi produksi dengan menggunakan instrumen asesmen atas pelaksanaan DMO 2018 yang mana kuota produksi daerah seperti Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan di pangkas sekitar lebih dari 50 persen. Namun, disisi lain, tekanan terhadap CAD, serta desakan dari provinsi-provinsi yang perekonomiannya banyak tergantung dari batubara, membuat pemerintah tidak punya pilihan selain merelaksasi target ekspor. Dalam situasi ini, tentu harga menjadi sulit untuk menguat. Diperkirakan pelemahan harga akan terus berlanjut meski di sisa kuartal-IV ini ada kemungkinan harga akan sedikit menguat karena peningkatan demand yang akan lebih tinggi akibat musim dingin.

 

Related Regular News: