LAPORAN SINGKAT DARI COALTRANS JEPANG, TOKYO 17 SEPTEMBER – (Bagian 2)

Dalam sesi panel diskusi dengan topik “Steady Coal Supply from Indonesia”, APBI-ICMA diwakili oleh Hendra Sinadia Direktur Eksekutif, sedangkan dari pelaku usaha hadir Harry Kristiono dari PT Medco Mining. Sementara Keith Witchurch dari SMG Consultant bertindak sebagai moderator. Keith Witchurch, geologist yang sudah cukup lama bermukim di Indonesia, membuka sesi diskusi dengan memberikan pengantar singkat mengenai prospek industri pertambangan batubara di Indonesia. Berbeda dengan di beberapa negara penghasil batubara lainnya, di Indonesia dalam 2 tahun terakhir tingkat produksi batubara jauh diatas target yang ditetapkan pemerintah. Bahkan produksi di 2018 yang sebesar 557 juta ton kemungkinan di tahun 2019 bisa meningkat lebih tinggi. Jika melihat persepsi negatif yang masih melingkupi sektor pertambangan batubara di tingkat global, di Indonesia aktifitas pertambangan batubara terbilang cukup dinamis.

Hendra Sinadia menjelaskan secara singkat proyeksi produksi batubara di tahun 2019 yang diperkirakan akan melebihi realisasi produksi di tahun 2018. Berdasarkan data di semester pertama 2019 dimana produksi batubara mencapai 296 juta M/T, maka dengan asumsi produksi di semester kedua sama dengan semester pertama maka produksi di akhir tahun dapat mendekati 600 juta M/T. Hal ini mengkhawatirkan karena kondisi pasar global seaborne semakin melemah dengan HBA di periode September 2019 merupakan yang terendah sejak pertengahan 2016 yang lalu. Estimasi tingkat produksi di 2019 akan jauh melebihi target produksi yang ditetapkan pemerintah sebesar 479 juta M/T. Meskipun pemerintah pada awalnya berupaya untuk mengendalikan tingkat produksi dengan pembatasan kuota dengan memperhitungkan realisasi DMO di 2018, namun dalam kondisi semakin melebarnya defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit), pemerintah tidak mempunyai pilihan selain memperbolehkan tambahan produksi.

Penambahan produksi diperbolehkan mengingat pemerintah harus mengejar target pemenuhan PNBP royalti minerba di tahun 2019 yang masih menggunakan asumsi HBA $80/ton. Ditengah semakin lebarnya defisit, pemerintah mengambil langkah untuk memperbolehkan tambahan produksi batubara guna menambal defisit. Pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM telah mengumumkan memberikan izin tambahan produksi bagi sekitar 35 perusahaan yang telah mengajukan revisi RKAB. Sedangkan pemerintah provinsi juga kesulitan untuk menertibkan persetujuan produksi karena beberapa provinsi diminta menekan target produksi 2019 akibat lemahnya permintaan. Fabio Gabrieli dari Mercuria di awal conference juga menyampaikan mengenai kemungkinan meningkatnya produksi dari Indonesia dan dilema yang dihadapi pemerintah dalam memberikan tambahan produksi. Menurut Fabio, oversupply dari Indonesia dapat menekan indeks harga yang terus menurun.

Disisi lain, Harry Kristiono dari PT Medco Mining juga menyampaikan outlook batubara nasional termasuk serapan domestik dan kewajiban DMO. Harry Kristiono menjelaskan potensi pasar dari batubara Indonesia untuk jaminan pasokan ke Jepang. Medco Mining juga berkesempatan memperkenalkan produksi batubaranya yang dikenal memiliki kandungan sulfur yang cukup tinggi. Karakteristik batubara dengan sulfur tinggi tersebut diharapkan memiliki konsumen khususnya industri semen. Medco Mining juga sedang menjajaki penjualan batubara ke Jepang.

Dalam sesi diskusi Hendra menyampaikan bahwa pasokan ke Jepang untuk jangka panjang diperkirakan akan tetap berkelanjutan meskipun dalam kedepannya, porsi ekspor diproyeksikan akan berkurang seperti yang tercantum dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Peran ekspor batubara sejauh ini bahkan hingga 2 atau 3 dekade kedepan masih sangat penting bagi Indonesia karena batubara masih menjadi andalan penerimaan negara dan devisa ekspor. Sementara itu, pasar Jepang yang masih mengandalkan peran batubara untuk beberapa dekade kedepan tentu mempunyai peran penting.  

Related Regular News: