Beberapa produsen batubara merambah bisnis batubara kokas atau coking coal

Sumber : https://industri.kontan.co.id/news/sejumlah-emiten-rambah-bisnis-batubara-kokas

KONTAN.CO.ID  10  September  2019  memberitakan  bahwa  sejumlah produsen batubara merambah bisnis batubara kokas atau coking coal. Selain meningkatnya permintaan dari industri baja, harga jual batubara kokas pun lebih tinggi ketimbang thermal coal.

Sementara Harga Batubara Acuan (HBA) pada September tahun ini dipatok US$ 65,79 per metrik ton atau menyusut 9,47% dari HBA Agustus US$ 72,67 per ton.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menyampaikan selain melanjutkan efisiensi, bagi perusahaan yang memproduksi coking coal juga bisa meningkatkan penjualan batubara kokas sebagai strategi di tengah menurunnya harga batubara.

Teranyar, Grup Sinarmas juga menambah kepemilikan saham di perusahaan tambang batubara Australia, Stanmore Coal Limited. Penambahan kepemilikan saham di Stanmore Coal ini dilakukan oleh Golden Investments (Australia) Pte. Ltd., anak usaha Golden Energy Resources Limited (GEAR).

Dalam keterbukaan informasi di Singapore Exchange, direksi Golden Energy mengumumkan bahwa Golden Investments pada 19 Agustus lalu telah membeli 6,6 juta saham Stanmore Coal. Sebagai produsen batubara kokas, Stanmore Coal mengoperasikan tambang batuara kokas Isaac Plains di Bowen Basin, Queensland, Australia.

Selain itu, PT United Tractors Tbk (UNTR) sudah lebih awal memproduksi batubara kokas dari tahun lalu. Sepanjang tahun 2018 mereka memproduksi sebesar 808.000 ton coking coal. "Pada tahun ini kita targetkan produksi batubara kokas sebesar 1,4 juta ton," ungkap Sektretaris UNTR Sara K. Loebis, Selasa (10/9).


Sampai Juli 2019, UNTR sudah memproduksi sebanyak 745.000 ton batubara. Sara bilang tahun depan perusahaan bisa meningkatkan produksi menuju kapasitas maksimal 2 juta hingga 2,5 juta ton batubara kokas per tahun.

Secara tak langsung, sambungnya, pendapatan dari penjualan batubara kokas bisa menopang ketika harga batubara tengah turun. "Meski harga batubara kokas juga bisa bergerak naik turun, masih lebih tinggi dibanding harga thermal coal," imbuhnya.

Sementara pemasaran batubara ini pada industri baja seperti ke Jepang. Tak hanya UNTR, PT Adaro Energy Tbk melalui Adaro MetCoal Companies (AMC) memiliki 7 konsesi tambang batubara kokas.

Beberapa waktu lalu emiten berkode sama ADRO ini juga mengakuisisi tambang Kestrel di Australia yang juga memproduksi batubara kokas. Adaro memperkirakan bakal ada pertumbuhan 40% pada produksi batubara Kestrel yang dapat dijual dan diserap dengan baik oleh pasar.

Perusahaan melihat pada semester kedua ini pasar batubara metalurgi ini bakal berbeda dengan pasar batubara thermal coal. China dan Australia terus menjadi penggerak utama di pasar ini lantaran ketatnya suplai Australia dan tingginya produksi hot metal dan baja di China membuat pasar relatif stabil dan menunjang harga babtubara kokas keras.


Harga batubara kokas keras (HCC) Australia mencapai harga rata-rata US$ 205 per ton pada paruh kedua ini. Pada semester 1 2019 AMC sudah memproduksi 0,60 juta ton dan dari Kestrel berhasil menjual 3,45 juta ton batubara.

Head of Corporate Communication Division Adaro Energy Febriati Nadira menyampaikan di tengah penurunan harga batubara perusahaan terus mengembangkan seluruh lini bisnis.

“Dengan bisnis model yang terintegrasi, perseroan memiliki proteksi terhadap pendapatan, di mana pada saat harga batu bara yang tertekan, perseroan tetap bisa membukukan pendapatan dari bisnis non-pertambangan batu bara," tuturnya, Selasa (10/9).

 

Related Regular News: