Kementerian ESDM sudah menampung masukan dari sejumlah kalangan agar harga patokan direvisi

Sumber : https://insight.kontan.co.id/news/kementerian-esdm-mengkaji-revisi-harga-batubara-dmo

 

KONTAN.CO.ID  11 September  2019 memberitakan bahwa  Harga patokan batubara domestik atau domestic market obligation (DMO) untuk kebutuhan listrik dalam negeri kembali jadi sorotan.

Harga patokan DMO US$ 70 per ton itu dianggap sudah tidak relevan lantaran tidak sejalan dengan harga batubara acuan (HBA).

Pada September ini, HBA kembali melanjutkan tren penurunannya. Angkanya saat ini US$ 65,79 per ton, turun 9,47% dibandingkan HBA Agustus yang mencapai US$ 72,67 per ton.Ini pula yang memunculkan pro dan kontra atas harga patokan DMO itu.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengaku sudah menampung masukan dari sejumlah kalangan agar harga patokan direvisi.

Makanya, pemerintah juga membuka opsi untuk membahas lebih lanjut usulan itu.

"Hanya, itu menjadi salah satu item jika nanti ada pergerakan yang berubah drastis, pasti kita bahas," ujar Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Rida Mulyana, di DPR, kemarin.

Yang jelas untuk saat ini, harga batubara DMO untuk kebutuhan pembangkit listrik yang dipatok US$ 70 per ton itu masih menjadi asumsi dalam atas penetapan subsidi listrik dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020.

"Tapi kita akan menyikapi jika harga tak terkontrol," tandasnya.

 

Perusahaan batubara kesulitan

Bagi podusen, selain harga patokan US$ 70 per ton sudah tidak lagi relevan, kewajiban memasok batubara sebesar 25% kepada Perusahaan Listrik Negara juga demikian.

Di tengah tren harga yang terus menurun, dan permintaan kondisi pasar global yang melemah, produsen batubara nasional saat ini justru berlomba untuk memasok batubara ke dalam negeri.

"Jadi PLN sebenarnya tidak perlu lagi takut kesulitan pasokan," kata Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Batubara Indonesia (APBI), Hendra Sinadia ke KONTAN.

Sekarang ini produsen batubara justru tengah tertekan. Selain harga batubara yang anjlok, memasok batubara ke dalam negeri pun tidak mudah. Sebab, lebih dari 80% kebutuhan batubara domestik diserap untuk kelistrikan. Sementara sekitar 90% kebutuhan batubara PLN sudah dipenuhi melalui kontrak dengan delapan perusahaan saja.

"Sehingga perusahaan yang ingin memasok ke PLN sangat terbatas," tandasnya.

Industri lain seperti semen dan tekstil juga sedang tertekan. Ditambah harga yang terus menurun, transfer kuota pun juga sulit dilakuan.

Bagi PLN, patokan batubara DMO juga bisa menjaga tarif listrik untuk pelanggan. Sebab, harga beli batubara PLN terjaga di angka tersebut meskipun HBA sedang tinggi. Oleh karena itu, manajemen PLN meminta supaya patokan harga batubara sebesar US$ 70 tetap dilanjutkan.

"Jadi begitu HBA rendah ya yang dipakai yang rendah. Ini bagus untuk konsumsi kami," kata Plt Dirut PLN, Sripeni Inten Cahyani, di Gedung DPR, Selasa (10/9).

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa berpendapat, pasokan batubara untuk kelistrikan memang harus dijamin.

Tapi, pengadaannya cukup dilakukan secara kontraktual dengan skema business to business.

 

Related Regular News: