Kideco menerima penghargaan kategori “Surface Mining” di acara The 37th ASEAN Ministers on Energy Mining

Bertempat di kota  Bangkok Thailand (4 September 2019), Perdana Menteri Yang Mulia Jenderal Prayut Chan-ocha memimpin upacara pembukaan “The 37th ASEAN Ministers on Energy Meeting (37th AMEM) and Associated Meetings” dengan tema "Memajukan Transisi Energi Melalui Kemitraan dan Inovasi ", yang diadakan di Crystal A Room, The Athenee Hotel, Bangkok.

Perdana Menteri Yang Mulia Jendral Prayut Chan-ocha mengatakan bahwa kawasan ASEAN menghadapi banyak tantangan di sektor energi, energi merupakan faktor penting yang mempengaruhi pembangunan sosial dan pertumbuhan ekonomi secara terus-menerus, produksi energi dan penggunaan setiap negara ditentukan oleh kemampuannya untuk beradaptasi dengan tantangan energi sesuai dengan situasi kawasan.

Dalam acara tersebut  diserahkan pula beberapa penghargaan kepada beberapa perusahaan  pertambangan  dengan berbagai kategori.  PT.Kideco Jaya  Agung  menerima penghargaan  pada kategori “Surface Mining” . Penghargaan ini diterima langsung oleh  Direktur  Utama  Kideco/ Wakil Ketua  Umum APBI-ICMA  Bidang  Humas dan Eksternal Relation, Kurnia  Ariawan.

Selanjutnya  Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar dalam  sambutannya menyampaikan bahwa bioenergi merupakan tahapan penting dalam transisi energi dan berperan penting untuk mencapai target Paris Agreement.

"Bioenergi merupakan tahapan penting dalam transisi energi dan berperan penting untuk mencapai target Paris Agreement," Arcandra menegaskan perlunya ASEAN mengakui pentingnya bioenergi dalam transisi energi.

Arcandra menyebut, Asia Tenggara adalah kawasan yang kaya akan sumber daya bioenergi, namun saat ini potensi bioenergi di negara-negara anggota ASEAN belum dimanfaatkan secara optimal. Indonesia memiliki resource bioenergi yang melimpah, terutama minyak sawit untuk campuran gas oil dan juga dikonversi menjadi green diesel.

Dokumen IRENA Report on Global Energy Transformation (2018) memperkirakan bahwa target energi terbarukan di masa depan tidak dapat dicapai tanpa bioenergi. IPCC dalam Energy Technology Perspectives (ETP) Scenario and Biofuture Platform Report juga telah membahas bahwa tujuan pengurangan emisi global tidak dapat dicapai tanpa biofuel. Oleh karena itu, Arcandra mendorong ASEAN untuk meningkatkan kolaborasi dalam pengembangan bioenergi berkelanjutan di negara-negara ASEAN.

"Laporan-laporan tersebut juga dengan jelas menyebutkan bahwa tujuan pengurangan emisi global tidak dapat tercapai tanpa hadirnya kendaraan listrik. Peraturan Presiden tentang kendaraan listrik untuk transportasi darat baru saja diterbitkan. Mempromosikan kendaraan listrik diperlukan bagi Indonesia untuk mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dan juga menurunkan emisi gas rumah kaca," papar Arcandra.

Untuk memenuhi kebutuhan energi di Indonesia sendiri, peran batubara memang masih dominan sebagai sumber energi. Namun, Pemerintah mulai mendorong penggunaan gas dan energi terbarukan serta penggunaan Clean Coal Technology pada pembangkit listrik berbahan bakar batubara, dengan tetap mengatur tarif listrik untuk pelanggan agar tetap terjangkau.

Upaya transisi energi dilakukan tidak hanya di sektor pembangkitan, namun juga di sektor transportasi. Indonesia telah memperkenalkan B20 (campuran 20% biodiesel pada bahan bakar diesel) yang sebagian besar disuplai dari minyak kelapa sawit. Bahkan, tahun depan Indonesia berencana untuk mengimplementasikan mandatori B30 (campuran 30% biodiesel pada bahan bakar diesel).

Hal tersebut juga telah diungkapkan Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jisman P. Hutajulu selaku Alternate Senior Official of Energy Leader Indonesia pada Senior Official Meeting on Energy (SOME) sehari sebelumnya.

37th ASEAN Ministerial on Energy Meeting (AMEM37) merupakan forum utama para Menteri Energi ASEAN dalam menentukan arah kebijakan kerja sama energi ASEAN. Sementara SOME merupakan pertemuan tahunan antarpejabat tinggi energi ASEAN dengan para mitra wicara (dialogue partners) dan organisasi internasional, menjadi wadah dalam merefleksikan perubahan dinamis dalam lanskap energi global terkini, pentingnya kemampuan adaptasi, dan menangkap peluang-peluang inovasi dalam rangka pencapaian transisi energi untuk pertumbuhan berkelanjutan di negara-negara ASEAN.

Pertemuan tersebut membahas implementasi dan capaian kerja sama ASEAN sesuai dengan dokumen acuan ASEAN Plan of Action on Energy Cooperation (APAEC). Sebanyak 7 focal point area kerja sama energi menyampaikan capaian dan kemajuan aktivitas kerja sama. Selanjutnya, materi tersebut didiskusikan untuk mencapai kesepakatan bersama seluruh negara ASEAN dan diadopsi dalam draft Joint Ministerial Statement, yang disampaikan pada pertemuan AMEM.

 

Related Regular News: