APBI's Point of View about DMO

By : Hendra Sinadia (Direktur Eksekutif APBI-ICMA)

Kontroversi soal pemberlakuan DMO batubara, khususnya penetapan HBA khusus US$ 70/MT seperti yang ditetapkan pemerintah di Maret 2018 dan direncanakan berlaku hingga akhir 2019 masih tetap berlanjut. PLN dikabarkan telah mengirim surat resmi ke pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM minta agar penetapan HBA khusus tersebut terus diberlakukan demi terjaminnya pasokan batubara ke PLN ditengah fluktuasi harga komoditas. Di sisi lain, pengusaha meminta ke pemerintah untuk mempertimbangkan kembali pemberlakuan HBA khusus mengingat harga komoditas batubara sedang melemah sehingga HBA saat ini mendekati harga jual ke domestik (HBA khusus). Oleh karena itu, penetapan HBA khusus menurut pelaku usaha justru menyulitkan pemasok dalam memastikan pasokan batubara ke pembangkit listrik di dalam negeri.

Selain soal penetapan HBA khusus, hal lain yang disoroti oleh pengusaha dalam hal ini APBI terkait dengan DMO adalah mengenai besaran persentasenya yang diatur sebesar 25 persen. Aturan mengenai besaran DMO 25% ditetapkan dalam KepMen No. 78 K/30/MEM/2019 tentang Penetapan Persentase Minimal Penjualan Batubara Untuk Kepentingan Dalam Negeri Tahun 2019. Namun, dengan meningkatnya tingkat produksi di 2019, yang diproyeksikan dapat melebihi realisasi produksi 2018, maka besaran persentase 25% dipastikan tidak relevan. Bahkan di tahun 2018 lalu, realisasi DMO hanya sekitar 22 persen. Berdasarkan hal tersebut, APBI melihat ada beberapa hal:

  • Jumlah target produksi batubara nasional yang ditetapkan oleh Kementerian ESDM adalah sebesar 489 juta M/T (termasuk kuota untuk pemegang IUP provinsi), sehingga besaran kewajiban DMO jika merujuk ke KepMen No. 78/2019 tersebut adalah sebesar 122 juta M/T (25 persen dari target produksi).
  • Berdasarkan informasi, realisasi pasokan ke domestik di semester-1 dilaporkan sebesar 61 juta ton. Jika disetahunkan maka, di akhir tahun 2019 estimasi realisasi pasokan ke domestik sekitar 122 juta M/T atau sesuai dengan target yang ditetapkan di dalam KepMen No. 78/2019. Menurut hemat kami, serapan domestik di semester-2 tahun 2019 kemungkinan sama dengan serapan di semester-1 tahun 2019.
  • Namun, berdasarkan data yang dikutip dari website MODI, jumlah realisasi produksi di semester-1 tercatat sebesar 286,51 M/T. Untuk mendapatkan estimasi realisasi produksi di akhir tahun 2019 jika angka tersebut disetahunkan (annualized) maka estimasi realisasi produksi di tahun 2019 akan sebesar 573,02 juta M/T atau meningkat sekitar 17% dari target yang ditetapkan 489 juta M/T. Seperti di tahun-tahun sebelumnya, realisasi produksi di semester-2 umumnya lebih tinggi dari realisasi produksi di semester-1.
  • Berdasarkan laporan, ada sekitar 35 perusahaan yang telah mengajukan permohonan revisi RKAB tahun 2019, yang mana akan terdapat penambahan produksi yang tentunya akan melebihi jumlah target produksi yang telah ditetapkan. Selain itu, beberapa provinsi juga masih tetap memohon agar diberikan kelonggaran pemberian kuota produksi di tahun 2019.

Berdasarkan pertimbangan diatas, maka APBI mengharapkan agar  besaran persentase DMO di tahun 2019 dapat ditinjau kembali, dengan kisaran persentase DMO 19-21%, agar mendekati realisasi sebenarnya hingga akhir tahun 2019. Dengan disesuaikannya besaran persentase pemenuhan DMO diharapkan hal tersebut dapat memberikan kepastian bagi para produsen dalam berupaya memenuhi kewajiban DMO yang ditetapkan pemerintah.

Related Regular News: