FGD Kecukupan Cadangan Batubara Nasional dengan KEIN

Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) mengadakan Focus Group Discussion (FGD) terkait jumlah cadangan batubara nasional, yang diadakan Kamis (25/07) di Hotel Fairmont, Jakarta. Acara pagi itu dibuka oleh Zulnahar Usman selaku Ketua Pokja, Komite Ekonomi dan Industri Nasional. Zulnahar Usman memberikan paparan singkat mengenai kondisi batubara dan harapannya agar FGD kali ini dapat menghasilkan rincian klasifikasi terbaik sesuai kebutuhan stakeholders baik dari pemerintah, perusahaan, dan pemakai.

Acara ini sendiri menghadirkan tokoh-tokoh dari pemerintahan seperti Rudy Suhendar, Kepala Badan Geologi Kementrian ESDM. Dalam diskusi yang dipandu yang dipandu Prof. Dr. Ir. Irwandy Arif, M. Sc sejumlah data penting disampaikan pada sesi pertama. Menurut data yang disampaikan oleh Rudy, per-Juni tahun 2019, Indonesia masih memiliki total sumber daya batubara di angka 148 miliar ton dengan jumlah cadangan sebanyak 41 miliar ton. Data ini tidak terlalu berubah dibandingkan dengan data di tahun 2018. Adapun lokasi yang menjadi produsen terbanyak berada wilayah Kalimantan dan Sumatera.

Namun terdapat perbedaan data jika merujuk pada data yang dimiliki Direktorat Jenderal Minerba Kementrian ESDM. Menurut Dirjen Minerba KESDM, Bambang Gatot Ariyono yang memberikan pemaparan, sumber daya batubara berada di angka 51 miliar ton dan cadangannya berada di 15 miliar ton. Perbedaan data dari Badan Geologi Kementrian ESDM dikarenakan oleh perbedaan sumber penilaian atau metode pengambilan data cadangan itu sendiri. 

Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM, Bambang Gatot Ariyono mengemukakan hal tersebut dalam pernyataannya bahwa “Batubara bukan hanya sumber energi, tapi sumber pembangunan daerah dan sumber pembuka lapangan kerja”. Tak hanya itu, Ia juga memaparkan standar estimasi sumberdaya dan cadangan dari laporan perusahaan PKP2B, IUP, PMA, IUP BUMN.

Paparan lainnya disampikan oleh Sudirman Widi, perwakilan dari API-IMA yang saat itu menggantikan Ido Hutabarat memberikan presentasi mengenai rencana pemenuhan kebutuhan energi listrik nasional dibeberapa tahun kedepan. Hal-hal yang menjadi sorotan menurutnya adalah peningkatan konsumsi listrik Nasional sampai 34.890 kWH/kapita pada tahun 2041 atau sebanyak 50% dari konsumsi energi di Amerika Serikat saat ini. Peningkatan konsumsi listrik ini tentunya akan mempengaruhi kebutuhan kapasitas listrik dan kebutuhan batubara.

Hendra Sinadia selaku Direktur Eksekutif dari APBI-ICMA ikut serta menambahkan informasinya dari segi data ekspor batubara nasional saat ini, dimana Tiongkok, India, dan Jepang masih menjadi tiga negara teratas untuk tujuan ekspor batubara Indonesia. Hendra juga menjelaskan faktor-faktor yang dapat menjadi tantangan kedepan dalam memenuhi kecukupan cadangan batubara, antara lain, faktor lingkungan & perubahan iklim, kompetisi harga, kompetisi Energi Baru & Terbarukan (EBT) dan faktor risiko kebijakan yang akan berdampak terhadap perekonomian dan investasi jangka panjang.

Selain membahas data cadangan, FGD Kecukupan Cadangan Batubara juga diisi dengan diskusi kebutuhan batubara dan kontribusinya sebagai salah satu pemenuh devisa negara. Diskusi ini dipandu oleh Dr. R. Sukhyar dengan pemaparan perwakilan Kementrian Perdagangan dan PT. PLN.

Dari sudut pandang Kementerian Perdagangan ekspor batubara saat ini mengalami penurunan. Ari Satria, Direktur Pengembangan Produk Ekspor, Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementrian Perdagangan menjelaskan kedudukan komoditi batubara dalam neraca ekspor Indonesia di pasar global (supply and demand) dimana ekspor produk non migas pada Januari – Juni 2019 tercatat sebesar USD 74,21 miliar atau turun 6,54% dibanding periode yang sama tahun 2018. Selain itu, Ari juga menyampaikan bahwa menurut PERMENDAG No. 95/2018, batubara dan produknya hanya dapat diekspor oleh perusahaan yang telah mendapatkan pengakuan sebagai ET-Batubara dari Menteri.

Sementata Harlen En, Kepala Divisi Batubara PT. PLN menyampaikan kebutuhan batubara untuk pembangkit listrik dengan data di tahun 2019 sebanyak 97 juta ton. Dalam presentasinya, ia menyebutkan bahwa kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Gas/Mesin Gas (PLTG/MG) menurun dikarenakan sebagian telah beroperasi di tahun 2018, serta beberapa telah diganti menjadi PLTU. Akibatnya kapasitas PLTU menjadi meningkat.

Tidak hanya dari pemerintah, FGD ini juga diisi oleh pihak lain seperti perwakilan Djakarta Mining Club untuk memberikan usulan. Juangga Mangasi M selaku moderator, mengundang M.S.Marpaung, Ketua Djakarta Mining Club untuk memberikan paparan singkat mengenai risiko dari keterbatasan cadangan yang mungkin akan dialami oleh Indonesia. Ia juga mengusulkan agar pemerintah mengukur cadangan batubara dari sisi zonasi. Harapannya, Badan Geologi dan Ditjen Minerba Kementrian ESDM bisa bekerjasama dalam hal perbaikan aturan atau metode pengambilan data untuk cadangan batubara nasional secara keseluruhan dan cadangan batubara level korporasi.

Related Regular News: