Pembukaan 25th Coaltrans Asia

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Bambang Gatot Ariyono atas nama Menteri ESDM pada tanggal 24 Juni 2019 secara resmi membuka acara ke 25th Coaltrans Asia  yang diselenggarakan oleh Coaltrans Conference yang berbasis di London, UK dengan APBI-ICMA di Westin Hotel Nusa Dua Bali. Pada kesempatan tersebut, Bambang Gatot menyampaikan peran penting dari batubara khususnya di Indonesia sebagai eksportir batubara terbesar di dunia. Di Indonesia sendiri batubara merupakan penyumbang PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak) Non Migas terbesar di Indonesia, dimana  pada tahun 2018  nilai  PNBP dari sektor mineral dan batubara mencapai 50,01 Triliun Rupiah yang mana sekitar lebih dari 70 persen merupakan kontribusi dari subsektor pertambangan batubara. Adapun perincian penerimaan tersebut adalah Rp 500 miliar dari iuran tetap, Rp 29,8 triliun dari royalti, Rp 19,3 triliun dari hasil penjualan hasil tambang  dan  Rp 400 miliar dari pendapatan  jasa tenaga kerja dan informasi.

Kontribusi signifikan tersebut berpengaruh besar pada devisa negara dimana ekspor komoditas batubara merupakan penyumbang devisa ekspor terbesar dan beberapa perusahaan batubara nasional masuk sebagai pembayar pajak terbesar. Namun demikian, menurut Dirjen Minerba, paradigma bahwa batubara difokuskan sebagai sumber penerimaan harus diubah bukan hanya sebagai penyumbang devisa negara yang terbesar namun batubara ini harus dijadikan modal untuk pembangunan nasional.

Dalam 5 tahun terakhir ini pemerintah melihat bahwa produksi batubara memiliki peningkatan nilai produksi yang cukup tinggi dan melebihi target yang telah ditetapkan pemerintah. Namun peningkatan produksi ini berpengaruh signifikan terhadap harga jual batubara dalam kondisi pasar yang oversupply. Hal ini sangat dirasakan dampaknya oleh perusahaan yang memiliki nilai kalori menengah kebawah, namun pemerintah sedang memikirkan solusinya, baik melaluiupaya menaikkan kuota produksi kembali, atau akan melakukan pembatasan produksi untuk menstabilkan kembali harga batubara kembali baik nasional maupun secara global. Selanjutnya diberitahukan bahwa dalam bauran energi (Energy Mix) Indonesia dinyatakan bahwa penggunaan batubara akan mengalami penurunan pada tahun 2025 sebesar 25% dan akan menurun kembali sampai tahun 2050 di angka 25%. Namun kenyataan nya dalam RUPTL PLN 2019-2024, PLN/sumber listrik nasional di Indonesia masih mengandalkan penggunaan batubara dengan menyumbang sekitar 58% dari kebutuhan pembangkit listrik.

Untuk penggunaan batubara dalam negeri (Domestic Market Obligaton) pemerintah Indonesia mengharuskan untuk melakukan 25% DMO dari total produksi perusahaan, dimana 80% dari nilai 25% DMO itu ditujukan untuk pembangkit listrik. Selanjutnya HBA (Harga Batubara Acuan) khusus PLN akan tetap berlaku sampai dengan akhir tahun 2019 ini sesuai dengan peraturan Kepmen ESDM No. 1410 Tahun 2018.

Pemerintah telah melakukan beberapa modifikasi untuk menunjang kemajuan teknologi yaitu dengan meluncurkan aplikasi MOMS (Minerba Online Monitoring System) dan e-PNBP. MOMS ini adalah aplikasi pengelolaan data secara real time dan akurat untuk produksi dan penjualan sektor mineral dan batubara berdasarkan RKAB yang telah disetujui. Sementara e-PNBP adalah aplikasi online berbasis web yang mampu menghasilkan perhitungan kewajiban perusahaan yang akurat beserta aplikasi untuk pembayaran dan pelunasan PNBP Minerba. Bukan hanya dari segi produksi, penggunaan batubara, penjualannya saja, dan pengembangan teknologi, namun pemerintah memfouskan pada sisi lingkungan, bagaimana penerapan pengurangan efek rumah kaca dan tantangan terberatnya adalah untuk melakukan reklamasi lahan pasca tambang dan terkait dengan dana reklamasi

Batubara merupakan sumber energi primer untuk ketahanan energi namun sekarang batubara ini harus menghasilkan produk yang bisa dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat yaitu dengan meningkatkan nilai tambah batubara dengan melakukan gasifikasi yaitu salah satunya mengkonfersikan batubara menjadi DME (Dymethyl Ether).

Terakhir pemerintah dalam hal ini Dirjen Minerba yang mewakili mengucapkan terimakasih atas konferensi yang diadakan oleh Coaltrans Asia dan APBI-ICMA, dan pemerintah akan siap mendukung dari sistem peraturan untuk mempermudah semua aspek industri batubara.

 

 

 

Related Regular News: