Rapat Review Formulasi HBA dan HPB Batubara Kalori Rendah

Sehubungan terjadinya disparitas harga yang cukup signifikan untuk batubara kalori dibawah 4200, karena disparitas harga kalori ini bisa sampai 20$, dan DJMB pun mengungkapkan bahwa akan mereview kembali HPB untuk kalori dibawah 4200 sementara batubara dengan kalori 4200 ke atas akan tetap mengacu pada formulasi HPB yang ada, maka pada tanggal 27 Februari  2019 diadakan rapat  dengan tujuan melakukan review terhadap formulasi Harga  HBA dan  HPB  kalori rendah. Rapat dipimpin oleh Dodik Ariyanto (Kasubdit Pengawasan Usaha Operasi Produksi dan Pemasaran Batubara) mewakili Direktur Pembinaan & Pengusahaan Batubara yang sedang melakukan perjalanan dinas di luar kota. Pertemuan tersebut merupakan lanjutan dari pertemuan yang dilakukan tanggal22 Februari 2018 yang dihadiri oleh perusahaan-perusahaan yang juga memproduksi batubara kalori menengah dan tinggi selain kalori rendah.

Dalam rapat tersebut beberapa perusahaan menyampaikan kondisi dilapangan  dimana disparitas harga  yang terjadi pada masing-masing perusahaan  menjadi berbeda-beda. Dari pertemuan tersebut maka ada beberapa poin penting yang dapat disampaikan yaitu :

  • PT. A menyampaikan bahwa batubara yang mereka produksi merupakan batubara dengan kalori dibawah 3000 GAR dan memang betul disparitas harga pasar yang dirasakan sangatlah jauh, HPB bulan Februari 2019 menunjukan angka 20,97 USD namun harga aktual yang mereka jual adalah 13,7 USD.
  • PT. B mengatakan bahwa mereka belum memproduksi batubara dengan kalori dibawah 4200 namun PT. B mengungkapkan agar HBA ini dibagi menjadi 2 untuk HBA dengan kalori tinggi sendiri dan HBA dengan kalori rendah sendiri.
  • PT. C dan PT. D menyatakan bahwa index yang sangat fluktuatif ini bergantung dari pasokan batubara dimana demand & supply yang harus dan komponen ICI-1 dianggap angkanya terlalu tinggi
  • PT. E menyatakan bahwa formulasi harga yang digunakan ada beberapa yang relevan dan ada beberapa yang kurang relevan bila digunakan untuk kriteria batubara di Indonesia. Sedangkan  indkes Argus dan Plats dianggap masih relevan. Sementara untuk index Newcastle dan Global Index yang umumnya mengacu pada batubara yang diproduksi Australia dianggap kurang relevan bila diaplikasikan untuk batubara Indonesia. Sementara pembahasan antara formulasi harga dan terkait dengan pembayaran royalty haruslah dilakukan secara bersamaan tidak bisa secara parsial.
  • Mengenai kebijakan pembatasan produksi yang dilakukan oleh Ditjen Minerba terhadap IUP daerah dianggap sudah tepat karena dinilai dapat menekan oversupply di pasar sehingga berpotensi mendongkrak kembali harga batubara.
  • Pemerintah dalam posisi yang tidak mudah dalam memformulasikan HBA mengingat kemungkinan dampak terhadap potensi menurunnya penerimaan negara. Sedangkan disisi lain, disparitas harga akan sangat merugikan pelaku usaha yang juga nantinya akan berpengaruh terhadap kondisi keuangan perusahaan.

Di akhir rapat pihak DJMB menyatakan akan melakukan pertemuan kembali dengan para perusahaan terkait dengan hal ini. APBI-ICMA disarankan untuk proaktif menampung aspirasi anggota batubara yang berkalori rendah untuk mengusulkan formulasi HBA dan HPB ini. Selain itu DJMB membuka masukan/pendapat  bagi para perusahaan yang akan menyampaikan pendapatnya terkait formulasi HBA dan HPB ini baik secara formal maupun informal. Selain itum, terkait dengan penetapan HBA, DJMB sedang mempertimbangkan untuk mengeluarkan HBA tidak hanya sekali dalam sebulan namun bisa setiap minggu atau 2 kali seminggu agar HBA yang ditetapkan mendekati realitas mengingat HBA itu sendiri merupakan kompilasi dari rerata HBA per minggu.

Related Regular News: