Audiensi dengan Direktur Fasilitasi Ekspor dan Impor Kementerian Perdagangan

Mengingat batubara sebagai komoditas ekspor andalan Indonesia maka APBI-ICMA yang menaungi hampir serratus pemegang izin ekspor terdaftar (ET) batubara merasa berkepentingan untuk memperat koordinasi dan komunikasi dengan Kementerian Perdagangan. Pada tanggal 21 Januari 2019 Hendra Sinadia DIrektur Eksekutif APBI-ICMA mengadakan courtesy call ke Direktorat Fasilitas Ekspor & Impor yaitu Olvy Andrianita. Pertemuan tersebut merupakan pertemuan pertama sejak Olvy Andrianita menjabat posisi tersebut sejak Oktober 2019 yang lalu. Dari APBI-ICMA hadir juga Haryanto Damanik (Wasekjen) dan Jonny Tjahjadi (Wakil Ketua Komite Logistik) dimana agenda utama pembahasan adalah terkait dengan rencana pelaksanaan kebijakan penggunaan asuransi nasional yang diamanatkan oleh Permendag No. 82/2017 yang telah diubah untuk kedua kalinya oleh Permendag No. 80/2018.

Dalam pertemuan tersebut APBI-ICMA meminta penjelasan dari pemerintah perihal pelaksanaan kebijakan tersebut yang akan efektif diberlakukan pada tanggal 1 Februari 2019. Dalam kesempatan itu Hendra Sinadia menyampaikan bahwa pada prinsipnya APBI mendukung kebijakan tersebut yang mana sikap APBI-ICMA tersebut telah disampaikan langsung ke Oke Nurwan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag dalam pertemuan sekitar Januari 2018. Dukungan APBI-ICMA tentu dengan catatan sepanjang kebijakan penggunaan asuransi dan kapal nasional (beyond cabbotage) tidak menghambat proses ekspor batubara dan tidak menimbulkan beban biaya tambahan dari para eksportir yang menjadi tulang punggung ekspor nasional kita.  Adapun bukti dari komitmen dukungan APBI-ICMA telah kami wujudkan melalui inisiatif dari APBI-ICMA dalam mengawal Permendag ini dengan aktif menginisiasi pertemuan-pertemuan dengan pihak (Indonesian National Ship owner Association (INSA), Buyer, Trader, dan Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) sendiri.

Direktur Fasilitas Ekspor & Impor Kemendag tersebut menyampaikan sedikit kronologis terkait bagaimana awalnya Permendag No. 82/2017 ini terbit dan sempat di relaksasi beberapa kali sehingga munculah Permendag No. 80/2018, beliau menyatakan bahwa mengapa asuransi ini digerakan lebih cepat dibanding dengan penggunaan kapal karena perdagangan Indonesia itu di bidang jasa sedang mengalami defisit dan yang dinyatakan lumayan bagus adalah dari sisi pariwisata maka dan dari segi penjualan barang, barang dari Indonesia sangat bagus dan banyak peminatnya sehingga ditetapkanlah batubara dan kelapa sawit yang menggunakan asuransi nasional. Kedua komoditas ini merupakan contributor ekspor non-migas terbesar namun negara masih mengalami defisit transaksi jasa perdagangan. Dengan diberlakukannya kewajiban penggunaan asuransi nasional bagi eksportir batubara dan CPO maka industri jasa nasional dalam hal ini asuransi dapat memanfaatkan peluang dari perdagangan jasa internasional dan membantu mengurangi defisit jasa perdagangan kita. berkontribusi ekspor yang tinggi namun uangnya itu tidak masuk ke negara, maka ditetapkanlah

Terkait dengan pelaksanaan Permendag 80/2018 pihak Kemendag pun menyatakan sudah ada beberapa importir dan beberapa negara yang menyanggupi dan siap mendukung peraturan ini dengan menggunakan asuransi nasional. Untuk mendorong para importir menggunakan asuransi nasional,  bahkan Kemendag siap melakukan pendekatan secara langsung untuk menjelaskan kepada buyer terkait dengan penggunaan asuransi nasional. Kemendag pun menyatakan bahwa per tanggal 1 Februari 2019 sampai 28 Februari 2019 penggunaan asuransi nasional ini merupakan masa uji coba (trial) dan Kemendag siap mengawal perusahaan dalam pemberlakuan peraturan ini.

 

Related Regular News: