Lebih fokus ke PLTU, Adaro Energy (ADRO) masih mengkaji gasifikasi batubara

Jakarta, APBI-ICMA : KONTAN.CO.ID  17 Januari  2019  memberitakan bahwa  PT Adaro Energy Tbk (ADRO) tengah menjajaki berbagai bentuk hilirisasi batubara, termasuk diantaranya adalah melalui proses gasifikasi yang menghasilkan Dimethyl Eter (DME). Dimethyl Eter (DME) yang diproses dari batubara peringkat rendah atau low rank coal itu nantinya bisa digunakan sebagai alternatif pengganti liquified processed gas (LPG) sebagai bahan bakar.

“Berdasarkan pantauan kami teknologi hilirisasi batubara terus berkembang, kami sedang mempelajari teknologi tersebut dari sisi effectiveness dan competitiveness-nya,” kata Corporate Communication Adaro Energy Febriati Nadira kepada Kontan.co.id Kamis (17/1).

Terkait dengan hilirisasi batubara melalui proses gasifikasi, sebelumnya Presiden Direktur Adaro Energy Garibaldi Thohir sempat menyatakan, Adaro telah melakukan studi sejak empat tahun lalu mengenai hal tersebut. Studi tersebut juga melibatkan perusahaan asal China Xen Hua Energy.

Namun, gasifikasi tersebut belum bisa dilakukan dengan segera karena terkendala pasar yang belum terbentuk dan skala keekonomian. Oleh karena itu saat ini Adaro Energy melalui anak usahanya PT Adaro Power lebih tertarik merampungkan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) ketimbang melakukan proses gasifikasi.

“Kalori batubara thermal Adaro Energy adalah “low to mid” di kisaran 4.000 kcal-5.000 kcal per kg dan memang lebih banyak digunakan untuk pembangkit listrik,” ungkap Nadira.

Sejauh ini emiten pertambangan batubara ini telah mewujudkan hilirisasi melalui pembangunan PLTU mulut tambang. Hilirisasi melalui PLTU mulut tambang pertama kali dikembangkan Adaro Energy pada tahun 2008 melalui pembangunan PLTU di Tanjung, Kalimantan Selatan melalui PT Makmur Sejahtera Wisesa. PLTU berkapasitas 2x30 MW tersebut digunakan untuk suplai listrik di area pertambangan Adaro Energy.

Sedangkan untuk proyek lain di luar PLTU mulut tambang, saat ini Adaro Power tengah menyelesaikan proyek PLTU Tanjung Power di Tabalong, Kalimantan Selatan yang berkapasitas 2x100 dan akan segera beroperasi pada tahun ini. Selain itu, ada pula PLTU Batang dengan kapasitas 2x1000 MW yang rencananya akan mulai beroperasi pada tahun 2020.

Asal tahu saja, wacana hilirisasi batubara melalui proses gasifikasi kembali mencuat setelah PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menandatangani kesepakatan dengan PT Pertamina dan Air Products and Chemical Inc terkait kerjasama hilirisasi batubara menjadi Dimethyl Eter (DME) melalui teknologi gasifikasi.

Rencananya, ketiga perusahaan tersebut akan membuat perusahaan patungan atau joint venture company sebelum nantinya memulai pembangunan pabrik di area pertambangan batubara Bukit Asam di Peranap, Riau. Pabrik tersebut diharapkan dapat beroperasi dua tahun mendatang dan mampu memproduksi 400.000 ton Dimethyl Eter (DME) per tahun.

Hilirisasi batubara melalui proses gasifikasi ini mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah. Seperti yang diungkapkan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno bahwa gasifikasi punya peran penting dalam rangka pengurangan impor LPG dan produksi clean energy di Tanah Air. Asal tahu saja, 73% dari seluruh kebutuhan LPG dalam negeri masih dipenuhi melalui impor.

Selain itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya juga menyatakan akan memberikan insentif bagi pengusaha batubara yang melakukan hilirisasi melalui proses gasifikasi. Rencananya bentuk insentif yang disiapkan berupa bebas pajak (tax holiday).

 

Sumber :

https://investasi.kontan.co.id/news/lebih-fokus-ke-pltu-adaro-energy-adro-masih-mengkaji-gasifikasi-batubara

 

Related Regular News: