Permintaan Triwulan Keempat Melesat, APBI : Produksi Batu Bara Diperkirakan di Bawah Target

Source: https://ekonomi.bisnis.com/read/20221002/44/1583382/permintaan-triwulan-keempat-melesat-apbi-produksi-batu-bara-diperkirakan-di-bawah-target

Author: Nyoman Ary Wahyudi | Editor : Kahfi

 

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) melaporkan terjadi peningkatan permintaan batu bara dari sejumlah negara mitra pada triwulan keempat tahun ini. Hanya saja, produksi batu bara domestik diperkirakan akan berada di bawah target yang ditetapkan pemerintah di angka 663 juta ton hingga akhir 2022.

Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia mengatakan peningkatan impor terjadi dari pasar tradisional dan non-tradisional di tengah tensi geopolitik yang masih intens hingga saat ini. Pembeli tradisional dengan porsi konsumsi besar seperti India dan China dipastikan membeli batu bara dengan persentase yang lebih tinggi dari pencatatan triwulan sebelumnya.

“Kalau musim dingin permintaannya akan lebih tinggi, Oktober ini juga akan ada rapat besar Partai Komunis permintaan dari China akan meningkat,” kata Hendra saat dihubungi, Minggu (2/10/2022).

Ihwal musim dingin, Hendra mengatakan permintaan dari sejumlah negara non-tradisional belakangan menunjukkan kelipatan yang signifikan. Misalkan, dia mencontohkan, pembelian batu bara dari Eropa sudah mencapai 4 juta ton sepanjang Januari hingga September tahun ini. Padahal torehan ekspor ke Eropa tidak pernah melebihi volume 1 juta ton selama ini.

Hanya saja, dia mengatakan realisasi produksi batu bara domestik turut dihadapkan pada persoalan cuaca dan pengadaan alat berat yang ikut mengoreksi ketersediaan pasokan.

“Kalau kita lihat rata-rata produksi bulanan itu 50 juta ton sampai 52 juta ton, mungkin saja akhir tahun ini sekitar 650 juta ton, cuma estimasi kasar, sedikit di bawah target ya,” kata dia.

Berdasarkan data milik Kementerian ESDM, realisasi produksi batu bara domestik sudah mencapai 497,55 juta ton atau 75,04 persen dari target yang dicanangkan pemerintah hingga awal bulan ini.

Adapun realisasi ekspor mencapai 189,71 ton dan kewajiban pasokan domestik (DMO) sebesar 128,76 ton. Sisanya realisasi domestik menyentuh di angka 140,68 juta ton.

Seperti diketahui, kebutuhan impor batu bara dari China diproyeksikan mencapai 240 juta ton pada tahun ini. Sementara India yang memperbanyak kualitas batu bara rendah diproyeksikan akan melakukan impor sebanyak 140 juta ton. Adapun, Indonesia berpotensi mengekspor 190 juta batu bara dengan 54 persen pasar didominasi China dan India.

Sementara untuk kebutuhan domestik, PT Perusahaan Listrik Nasional (Persero) atau PLN dipastikan akan menyerap sekitar 137 juta ton batu bara hingga akhir tahun ini. Di sisi lain, total kebutuhan domestik diprediksikan tembus di angka 165 juta ton.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menegaskan penerapan kebijakan badan layanan umum (BLU) Batubara akan berlaku surut atau efektif sejak Januari 2022. Rencananya, kebijakan badan pungutan batu bara itu akan diatur di dalam payung hukum peraturan presiden atau Perpres.

“Kita sekarang sedang menentukan due date dari pelaksanaan BLU, dilaksanakan awal Januari 2022, Ini merupakan proses. BLU Ini tidak akan menyebabkan pelaksanaan klausul dan kondisi yang sudah diterapkan berlaku pada saat BLU ini terbit,” kata Arifin saat rapat kerja bersama dengan Komisi VII DPR RI, Jakarta, Selasa (9/8/2022).

Menurut Arifin, kebijakan BLU berlaku surut itu dapat terlaksana lantaran pembahasan ihwal entitas khusus batu bara itu sudah dilakukan sejak awal tahun ini.

Malahan, kata dia, pemerintah sudah menetapkan kebijakan kewajiban pasokan dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) yang bersinggungan dengan materi BLU tersebut.

Related Regular News: