Krisis Energi, ESDM Bentuk Timsus Batu Bara

Sumber : https://ekonomi.bisnis.com/read/20211021/44/1456773/krisis-energi-esdm-bentuk-timsus-batu-bara

 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif membentuk tim khusus memantau rantai pasok bahan bakar energi seperti batu bara di tengah krisis energi yang melanda sejumlah negara. 

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan (Gatrik) Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan bahwa Menteri ESDM telah meminta seluruh direktorat jenderal untuk menangani rantai pasok bahan bakar energi untuk menjaga keandalan listrik. 

“Day by day melototin ini termasuk rantai pasok sampai melototin tongkangnya, karena ini menantang karena banyak yang dipakai ekspor,” katanya saat konferensi pers capaian kinerja triwulan III/2021 sektor ketenagalistrikan, Kamis (21/10/2021). 

Monitoring ini menurutnya juga disebabkan adanya tambang yang mengalami banjir akibat cuaca buruk. Dia berharap kondisi ini tidak berlangsung lama. Selain itu, Rida meyakini kondisi tersebut dapat diatasi oleh para perusahaan tambang dengan pengalaman dari tahun sebelumnya.

Pemerintah lanjutnya menyadari sejumlah negara mengalami krisis energi seperti Inggris, China, India, dan Amerika Serikat. Oleh karena itu, negara tersebut mulai memanfatkan kembali batu bara yang tersedia di dalam negeri. 

Di Indonesia, pemerintah telah menetapkan harga domestic market obligation (DMO) batu bara senilai US$70 per metrik ton. Selain itu, perusahan tambang juga wajib memasok 25 persen total produksi untuk industri dalam negeri. Hal ini memberikan kepastikan pasokan dalam negeri.

Di dalam negeri, pemerintah juga melihat sejumlah kapal tongkang turut mengangkut komoditas non-batu bara. Ha ini terjadi seiring dengan beroperasinya sejumlah smelter. 

Rida menuturkan diperlukan adanya kolaborasi dengan seluruh pihak demi menghindari berkurangnya pasokan energi. Kementerian ESDM turut berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk memantau kapal tongkang pengangkut hasil tambang baik batu bara maupun mineral. 

Di sisi lain, dia memperkirakan Indonesia masih jauh dari krisis energi. Kondisi ini turut dipengaruhi dengan melimpahnya bahan bakar energi termasuk batu bara maupun migas serta EBT. 

“Jangan sampai jadi krisis, kita berlebih [bahan baku], dari sisi instalasi dan demand juga belum menanjak meski belum membaik. Karena beban puncak sudah lebih baik dibandingkan sebelum Covid-19,” tuturnya. 

Related Regular News: