Hilirisasi Jadi Strategi Jangka Panjang Produsen Batu Bara

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20210922122315-17-278235/hilirisasi-jadi-strategi-jangka-panjang-produsen-batu-bara

 

Hilirisasi dan diversifikasi usaha kini menjadi salah satu strategi jangka menengah dan panjang perusahaan batu bara. Upaya ini diharapkan memberikan nilai tambah dibandingkan hanya menjual batu bara, yang harganya cenderung fluktuatif. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menjadi salah satu produsen batu bara yang telah menyusun diversifikasi dan hilirisasi.

Sekretaris Perusahaan BUMI Dileep Srivastava mengungkapkan dalam strategi jangka panjang atau 10-15 tahun ke depan adalah hilirisasi batu bara melalui anak usahanya Kaltim Prima Coal dan Arutmin Indonesia. Perusahaan akan berperan sebagai pemasok batu bara untuk proyek gasifikasi batu bara.

Sementara untuk jangka pendek, perusahaan tengah fokus menyelesaikan pembayaran utang dan memperbaiki keuangan dengan meningkatkan penjualan batu bara. Apalagi saat ini harga batu bara sedang meningkat dan BUMI menjadi produsen batu bara terbesar dengan produksi sekitar 85 juta ton per tahun.

Selain hilirisasi batu bara, perusahaan juga melakukan diversifikasi dengan meningkatkan kontribusi anak usahanya PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang bergerak di sektor penambangan emas dan logam. Dileep mengatakan emas, seng, tembaga, dan timbal yang diproduksi perusahaan memiliki proses yang menjanjikan di tengah fase supercycle.

"Bisnis batu bara BUMI akan terus stabil dan tetap menjadi sumber pendapatan yang penting, tetapi kami tidak memiliki rencana ekspansi yang signifikan untuk tumbuh di area ini," kata dia.

Dileep menambahkan secara paralel, fokus masa depan perusahaan untuk pertumbuhan sebagian besar akan beralih ke proyek hilir batubara. Dia menyebutkan hiliriasi termasuk gasifikasi, ruang energi hijau termasuk solar, melihat peluang hibrida.

Perusahaan juga akan meningkatkan investasinya di anak usaha seperti BRMS dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA). Dengan begitu bisa meningkatkan kontribusi anak usaha pada pendapatan BUMI sebagai induk. Dileep mengatakan strategi ini akan membuat BUMI terus menjadi penyumbang terbesar di sektor sumber daya ke kas negara melalui pajak, royalti dan retribusi.

"Pendapatan jangka panjang kami akan seimbang antara bisnis batubara tradisional yang tetap menarik, diselaraskan dengan proyek prioritas nasional untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor, seperti gasifikasi dan energi yang lebih bersih," ungkap Dileep.

Selain BUMI, hilirisasi batu bara juga dilakukan oleh perusahaan pelat merah PTBA bersama PT Pertamina (Persero), dan perusahaan asal Amerika Serikat Air Products untuk mengembangkan DME dengan kapasitas 1,4 juta metrik ton per tahun atau setara dengan 1 juta ton LPG per tahun.

Sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), gasifikasi diproyeksikan sebagai substitusi Liquified Petroleum Gas (LPG) sehingga mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM) dalam memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri. Direktur Utama PTBA Suryo Eko Hadianto kala itu juga mengungkapkan gasifikasi menjadi kebutuhan utama dan salah satu pilar bisnis ke depannya.

Meski PTBA masih menguasai cadangan batubara lebih dari 3 miliar ton dan mampu digunakan hingga 100 tahun mendatang dengan rata-rata produksi 30 juta ton per tahun, Suryo meyakini pemenuhan kebutuhan energi saat itu tak lagi bersandar pada batubara.

"Seratus tahun yang akan datang, batubara akan ditinggalkan. Maka harus kami berdayakan secepatnya, salah satu terobosannya adalah gasifikasi batubara," jelasnya.

Related Regular News: