Harga Batu Bara Rekor, Saham Produsennya Bangkit Berjamaah

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/market/20210923092721-17-278467/harga-batu-bara-rekor-saham-produsennya-bangkit-berjamaah

 

Saham-saham emiten batu bara menguat pada awal perdagangan hari ini, Kamis (23/9/2021), melanjutkan kenaikan pada perdagangan Rabu (22/9) kemarin. Sentimen positif pendorong saham batu bara adalah terkait harga batu bara yang kembali melesat dan menuju rekor baru.

Berikut penguatan saham batu bara, berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pukul 09.16 WIB.

Alfa Energi Investama (FIRE), saham +2,00%, ke Rp 510/saham

Indo Tambangraya Megah (ITMG), +1,93%, ke Rp 18.500/saham

Harum Energy (HRUM), +1,85%, ke Rp 5.500/saham

United Tractors (UNTR), +1,32%, ke Rp 21.150/saham

Bukit Asam (PTBA), +1,28%, ke Rp 2.380/saham

Indika Energy (INDY), +1,09%, ke Rp 1.385/saham

Mitrabara Adiperdana (MBAP), +0,92%, ke Rp 3.290/saham

Bayan Resources (BYAN), +0,66%, ke Rp 15.300/saham

Adaro Energy (ADRO), +0,36%, ke Rp 1.405/saham

Prima Andalan Mandiri (MCOL), +0,31%, ke Rp 1.600/saham

Menurut data di atas, saham FIRE menjadi yang paling menguat, dengan kenaikan 2,00% ke Rp 510/saham, usai naik pada 2 hari sebelumnya. Dengan ini, dalam sepekan saham FIRE terkerek 2,41%, sementara dalam sebulan turun 0,97%.

Kedua, saham ITMG yang mencuat 1,93% ke Rp 18.500/saham. Ini membuat saham ITMG berhasil naik dalam 3 hari beruntun. Dalam seminggu saham ITMG naik 1,51%, sedangkan dalam sebulan melesat 19,90%.

Di bawah ITMG, harga saham HRUM juga bertambah 1,85% ke posisi Rp 5.500/saham, melanjutkan kenaikan 3,35% pada perdagangan kemarin. Praktis, dalam sepekan saham ini menguat 4,65% dan dalam sebulan terkerek 15,50%.

Keempat, saham emiten Grup Astra UNTR yang terapresiasi 1,32% ke Rp 21.150/saham, setelah melaju di zona hijau dalam 3 hari terakhir. Kendati demikian, dalam seminggu belakangan saham UNTR malah minus 2,31%, sementara dalam sebulan mendaki 9,73%.

Harga batu bara melesat lagi. Kali ini, lonjakan harga batu bara membawanya menuju rekor baru.

Kemarin, harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) tercatat US$ 182,75/ton. Melejit 2,5% dibandingkan hari sebelumnya sekaligus menjadi rekor tertinggi setidaknya sejak 2008.

Batu bara adalah salah satu komoditas dengan kenaikan harga paling tinggi pada tahun ini. Sejak akhir 2020 (year-to-date), harga si batu hitam meroket 123,6%.

Batu bara tidak gentar meski ada 'gertakan' dari China. Dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Presiden China Xi Jinping menegaskan komitmen negaranya untuk menuju karbon netral pada 2060.

"Kami akan melakukan segala upaya untuk mencapai tujuan ini," tegasnya, seperti dikutip dari AFP.

Untuk mencapai netral karbon pada 2060, Xi mengungkapkan China tidak akan mendanai pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) baru di luar negeri. PLTU adalah pembangkit yang menggunakan batu bara sebagai sumber energi primer.

Namun target Xi memang bertahap, tidak bisa ujug-ujug. Sebab, saat ini China adalah konsumen batu bara terbesar di planet bumi.

Pada 2019, konsumsi batu bara di Negeri Tirai Bambu mencapai 4,36 miliar ton. Amerika Serikat (AS) di posisi kedua 'cuma' 924,44 juta ton.

Selain itu, ada alasan lain yang membuat batu bara sulit ditinggalkan, setidaknya dalam waktu dekat. Sebagai sumber energi primer untuk pembangkit listrik, batu bara masih lebih ekonomis dibandingkan sumber lainnya.

'Pesaing' terdekat batu bara adalah gas alam. Masalahnya, sekarang harga gas pun mahal, naik terus.

Pada Kamis (23/9/2021) pukul 07:57 WIB, harga gas di Henry Hub (Oklahoma, AS) tercatat US$ 4,77/MMBtu. Secara ytd, harga gas alam melonjak 88,14%.

Saat harga gas mahal, biaya pembangkitan listrik dengan energi primer itu jadi ikut menanjak. Di Eropa, misalnya, biaya pembangkitan listrik dengan batu bara adalah EUR 61,58/MWh per 14 September 2021. Sementara biaya pembangkitan listrik dengan batu bara adalah EUR 44,41/MWh.

"Kenaikan harga gas membuat batu bara menjadi kompetitif sehingga meningkatkan permintaan batu bara. Melihat harga kontrak forwards, sepertinya situasi ini masih akan bertahan setidaknya sampai awal 2022," sebut Toby Hassall, Analis Refinitiv, dalam risetnya.

 

TIM RISET CNBC INDONESIA

Related Regular News: