Siklus Super Komoditas Bak Durian Runtuh

Sumber : https://www.viva.co.id/berita/bisnis/1407239-siklus-super-komoditas-bak-durian-runtuh?page=all&utm_medium=all-page

 

Bisnis komoditas di Indonesia bak ketiban durian runtuh alias untung besar. Nyaris seluruh komoditas sumber daya alam (SDA) harganya meroket. Batu bara, minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO), minyak mentah, gas bumi, nikel hingga beras mengalami kenaikan.

Fenomena ini akrab disebut dengan siklus super komoditas atau commodity supercycle. Penyebab harga komoditas naik, antara lain karena permintaan yang meningkat dan pasokan yang terbatas.

Dampak Commodity supercylce ini diakui oleh Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi. Dia melihat ini sebagai salah satu faktor positif yang membuat surplus neraca perdagangan Indonesia memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Pada Agustus 2021, surplus neraca dagang tembus rekor mencapai US$4,74 miliar.

Mendag memperkirakan, kondisi siklus super ini akan berlanjut sampai September 2022. Fenomena supercycle ini bukan baru kali ini terjadi. Berkaca pada sejarah, fenomena serupa terakhir terjadi pascakriris tahun 2008.

Pengamat Ekonomi Energi UGM, Fahmy Radhi mengatakan, kenaikan harga komoditas dalam super siklus komoditas ini tentunya akan menaikkan nilai ekspor Indonesia. Pada ujungnya akan meningkatkan neraca perdagangan dan memulihkan ekonomi.

"Peningkatan neraca perdagangan memberikan kontribusi pada pemulihan ekonomi Indonesia," kata Fahmy kepada VIVA.

Secara ekonomi, lanjut dia, kenaikan harga komoditas natural resources seperti CPO, gas dan batu bara menguntungkan bagi Indonesia. Tapi ke depan perlu ada hilirisasi.

"Nilai tambah komoditas tersebut masih rendah karena belum diolah pada saat diekspor," katanya.

Terkait batu bara, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengakui harga batu bara acuan (HBA) pada bulan September 2021 merupakan yang tertinggi sejak 2010.

Kenaikan harga terjadi karena permintaan batu bara terus meningkat di China. Kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik di negeri tirai bambu itu melampaui kapasitas pasokan batu bara domestik mereka.

Kenaikan harga saat ini diakuinya memang gila-gilaan dan mencapai US$150,3 per ton. Meningkat ratusan persen dibanding September tahun 2020 yang sempat anjlok ke bawah US$50 per ton.

"September tahun lalu itu kan terendah dalam sepuluh tahun terakhir kan. Bayangkan september itu harga di bawah 50. Tiba-tiba sekarang harga di atas 150 kan gila itu," katanya.

Namun, lanjut dia, bukan berarti pengusaha tambang batu bara lantas berupaya mengeksploitasi batu bara secara masif. Saat ini, ungkap dia, produksi batu bara di Indonesia tidak terlalu besar karena berbagai faktor dari cuaca hingga ketersediaan alat berat.

"Kan sampai sekarang hujan ya. Dan bukan kita saja. Tapi kan di Australia juga, bahkan di Tiongkok sempat beberapa daerah banjir bandang juga. Itu yang membuat suplai di Tiongkok terdampak," kata dia.

Soal porsi penjualan batu bara, lanjut dia, tetap tidak semuanya diekspor. Karena ada kewajiban 25 persen untuk Domestic Market Obligation (DMO), yaitu kewajiban perusahaan tambang memasok ke PLN untuk pembagkit listrik dalam negeri. Harganya pun kini tetap US$70 per ton sesuai keputusan Menteri ESDM. Menurut Hendra, itu adalah salah satu kontribusi perusahaan batu bara membantu harga listrik dalam negeri agar tetap terjangkau.

Di tengah kenaikan harga batu bara tersebut, lanjut dia, target penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari Batu Bara pun cepat terpenuhi. Khususnya di bulan September ini.  "Target penerimaan negara kan sudah melebihi. September ini saja sudah terpenuhi," katanya.

Kegiatan kelompok usaha PT Bumi Resources Tbk.

Saat ini, Hendra mengatakan, perusahaan batu bara terbesar dari sisi produksi adalah PT Kaltim Prima Coal, PT Adaro Energy dan PT Kideco Jaya Agung. "Itu tiga besar. Enggak berubah kalau di sisi produksi," katanya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengakui siklus super komoditas ini bagus dampaknya untuk ekonomi. Terutama bisa membantu pendapatan negara.

"Kalau harga komoditas meningkat, ekspor meningkat, ya pastinya PNBP, royalti dan lain-lain ha rusnya meningkat, khususnya sawit dan batu bara itu menghasilkan devisa," kata dia.

Namun, dia melanjutkan, pemerintah juga perlu melihat hliirisasi batu bara ke depan agar memiliki nilai tambah.

 

Harga Komoditas Meroket, Industri Jangan Kendor

Berdasarkan data Center of Economic and Law Studies (Celios) harga komoditas memang RI melonjak tajam sejak awal tahun. Harga minyak mentah telah naik 46,1 persen secara year to date (ytd), yakni dari awal tahun 2021 sampai tanggal 21 September. Begitu pun harga gas bumi naik 96 persen, CPO naik 14,9 persen, beras naik 12 persen, batu bara naik 120,5 persen dan nikel naik 15,2 persen. 

"Jadi dari beberapa komoditas ini kita memang sedang mengalami tren yang cukup bagus karena ada restarting ekonomi khususnya di China. Kemudian juga negara-negara maju seperti AS. Mereka meminta bahan baku," tutur Direktur Celios, Bhima Yudhistira.

Sebagai negara penghasil komoditas, lanjut dia Indonesia memang lebih banyak mengekspor barang setengah jadi atau olahan primer. Surplus neraca perdagangan, menurutnya memang sudah cukup besar pada Agustus 2021. Namun jangan justru membuat Indonesia terjebak pada Commodity Supercycle tersebut. Hal ini berkaca dari sejarah Indonesia sebelumnya.

"Karena pelajarannya adalah ketika terjadi bonanza komoditas, biasanya Indonesia ini lupa mengembangkan industrinya sehinga terjadi apa yang disebut deindustrialisasi prematur. Yaitu porsi industri manufakturnya mengalami penurunan terhadap PDB karena banyaknya minat mengekspor barang mentah atau olahan primer," kata dia.

Selanjutnya, Indonesia perlu memerhatikan hilirisasi industri. "Jadi meskipun harga komoditasnya sedang meningkat. Tapi jangan dilupakan hilirisasi penting. Jadi produk yang dikirim ada nilai tambahnya. Jadi bisa menyumbang devisa yang lebih besar," katanya. 

Menurutnya, Indonesia memang harus belajar dari sejarah saat Commodity Boom atau Commodity Supercylce ini terjadi, jangan mengulangi kesalahan yang sama.

"Yaitu melupakan hilirisasi industri dan juga pengembangan teknologi. Sehingga ketika commodity boom berakkhir kita masih bisa mencetak pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkualitas. artinya serapan tenaga kerja besar," kata dia.

Related Regular News: